Tuesday, February 7, 2012

Housewife: A Prestigious Career

Kajian KRPH kali ini di isi oleh ustadzah favorit saya, Ustadzah Nunung... beliau begitu ekspresif saat bertausiyah dan sering membuat audiencenya “ngikik”...

Menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan remeh menurut beliau, bahkan saking ‘spesial’nya bila dijadikan sebuah bidang study maka ilmu kerumah tanggaan tidak cukup dibuatkan satu fakultas tapi seharusnya satu universitas... (Wooow... nggak lebay kan umi??? *Pertanyaan yang tiba-tiba melintas di sela2 kajian) dan jawabanya adalah (ooo tentu tidak).

Untuk jadi ibu rumah tangga yang “idealis” dan istiqomah memegang idealismenya banyak banyak banyak banyak banyak ilmu yang harus dimiliki seseorang yang ingin ‘layak’ dipanggil ibu: manajemen keuangan, manajemen gizi, kesehatan, parenting, psikologi, desain interior, sanitasi de el el, belum lagi ketrampilan yang harus dimiliki koki, cleaning servis, laundry, babycare, perawat de el el, tambah lagi afektif yang harus dimiliki sabar, disiplin, gigih, de el el (subhanallah... mbayangin aja beribet )

Tapi itu semua bukan dibayangin tapi dipelajari dan dipraktekan. Karena menurut umi nunung kalau sudah dijalani dengan sepenuh hati itu semua bisa jadi pengalaman seru, lucu, mengharukan, dan tak terlupakan... belum lagi balasanya dari sang Rabb...

Setiap yang dikerjakan ibu sangat berpengaruh terhadap kondisi keluarga khususnya anak-anak makanya nggak boleh sembarangan apa lagi serampangan. Misalnya bersih tidaknya rumah bisa berpengaruh terhadap psikologi anak. Anak-anak yang tinggal di tempat yang sanitasinya kurang baik biasanya akan lebih rewel.

Makanan yang disiapkan juga menentukan karakter anak kelak saat dewasa tidak hanya kesehatanya. Umi menyarankan ibu-ibu jangan termanjakan oleh banyaknya makanan instan yang praktis. Misalnya bubur bayi, sedapat mungkin bubur bayi jangan yang instan tapi dibuat sendiri karena pertama jelas halal dan bebas pengawet dan perasa yang merusak jaringan otak, yang kedua saat bayi penting lho mengenalkan ‘rasa’ pada anak-anak. Anak yang dari bayi sudah biasa tidak pake vetsin dan zat2 tambahan akan lebih peka lidahnya, dan ketika dewasa mereka tidak akan makan sembarangan. Mengatur pola makan sejak dini ternyata juga penting untuk menghindari masalah pencernaan. Umi menggambarkan memang sangat repot harus menggiling beras merah, membuat tim, aneka jus, dan lain-lain tiap harinya... tapi apa sih yang nggak buat generasi Islam masa depan.

Untuk teknik mencuci juga harus profesional. Pake ilmu Fiqh boo..Nggak buang-buang waktu tapi juga harus bersih. Prinsip yang harus diingat tentang hal ini adalah “suci dan mensucikan”. Bahkan Islam sudah punya standar bersihnya ‘sesuatu’ (red. T4, pakaian, dan badan) dari najis: hilang warna, rasa, dan bau. Banyak2 belajar fiqh deh tentang kebersihan tempat, pakaian, dan badan.

Ilmu parenting seorang ibu ternyata harus faseh nggak cuma teoritis tapi juga prakteknya. Mulai dari merawat bayi yang bisa jadi bikin bete buanget kalau kita nggak ikhlas. Sekarang sih (red. Waktu blum punya) kalau liat bayi gemes n seneng banget. Tapi nanti saat hari2 kita tidak bisa lepas dari rengekan mereka yang nggak kenal waktu huuu... masih bisa gemes nggak ya? Jadi ibu kan pekerjaan yang nggak ada cutinya. Belum lagi energi kita yang terserot karena harus menggedong mereka kesana-kesini karena faktanya pake babycar atau kereta bayi sering2 itu nggak bagus. Lebih baik digendong, karena setiap bayi selalu seneng kalau langsung disentuh bundanya... hmmm...

Sebenarnya masih ada banyak perkara yang dibahas tapi berhubung saking ‘terpesonanya’ sama ustadzah jadi nggak kecatet (ngeles mode:on)... semoga catatan kecil ini bisa nambah ilmu deh buat para calon ibu, khususnya yang tadi pagi nggak bisa dateng kajian... Come on para calon ibu, masa depan dunia ada ditangan kita! Fighting!

Ayo Dukung Merapi Bangkit

Bencana erupsi Merapi tak terasa sudah berlangsung satu tahun. Bencana dahsyat yang sempat mengguncang stabilitas Yogyakarta itu telah menelan ratusan korban jiwa dan menimbun puluhan desa. Pada saat tahap emergency kepedulian masyarakat Indonesia perlu diacungi jempol. Berbagai elemen turun tangan untuk memberikan bantuan materil maupun dukungan moril. Bahkan tak sedikit yang terjun langsung ke lapangan untuk menjadi relawan. Karena besarnya kepedulian masyarakat inilah maka tahap emergency dapat terlewati tanpa perlu memakan waktu lama. Namun pemulihan kondisi penduduk Merapi pasca bencana merupakan hal yang perlu diperhatikan dengan serius. Bantuan yang diberikan seharusnya tidak hanya sekedar bantuan sesaat tetapi bantuan yang efektif dan berkelanjutan.

Saat ini penanganan bencana Merapi telah mencapai tahap recovery khususnya pada sektor pemulihan kondisi sosial ekonomi pengungsi Merapi. Para pengungsi yang sebagian besar menghuni shelter atau hunian sementara sudah mulai kembali menata hidupnya dan membangun masa depan. Mereka mencoba bangkit dari keterpurukan. Sektor ekonomi adalah salah satu aspek yang paling penting untuk menjadi perhatian. Karena tidak mungkin para pengungsi selamanya akan bergantung pada bantuan. Untuk itu mereka mereka mencoba merintis unit-unit produksi dengan memanfaatkan sumberdaya alam setempat. Saat ini ada ratusan kelompok usaha kecil yang telah berhasil berdiri dan memproduksi berbagai jenis produk mulai dari makanan sampai kerajinan. Hasil produksi para pengungsi merapi antara lain berupa makanan kecil (keripik talas, keripik tempe, keripik jamur, keripik singkong, dan lain-lain), jamu tradisional (jahe wangi instant, kunyit instant, secang instant), kerajinan (jilbab sulam pita, kerajinan manik-manik), peternakan (sapi, ayam, lele), dan beberapa produk lainya. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah keberterimaan pasar terhadap produk-produk lokal. Mereka belum punya jaringan yang cukup kuat untuk mendukung pemasaran produk-produk yang mereka hasilkan. Untuk itu melalui surat pembaca ini kami Sekolah Pintar Merapi selaku salah satu lembaga yang mendampingi proses recovery bencan Merapi mengajak peran masyarakat luas untuk kembali peduli terhadap kondisi pengungsi merapi yang saat ini mulai bangkit. Bagi para pembaca yang peduli dan berminat untuk membantu para pengungsi merapi dengan menyediakan pasar, menjadi agen, distributor, konsumen, atau pemodal silahkan menghubungi Sekolah Pintar Merapi dengan contact person 085237015709 atau 085290884558. Terimakasih.

Dangndut For Merapi Children

#Published on Reader's Forum Jakarta Post 9 Dec '10#

Last week on Saturday night I visit Stadium Maguwoharjo, which has become an evacuation center for victims of Merapi’s eruptions. When I entered the main gate I was welcomed by a dangdut performance.

I passed the stage where the dangdut singer and musicians were performing. The lyrics were mostly about women, men and relationships, and they also sang the hit dangdut song Keong Racun.

They sang well and there was sexy dancing. I think the performance was to entertain the refugees at the evacuation shelter. However, I was surprised to see most of the audience was children. They stood near the stage and followed the singer’s dancing and singing.

Is this entertainment for children or adults? If this is entertainment for children, why is it performed late at night, at almost 10 o’clock? And why do the songs mostly discuss adult life and relationships? Moreover, sometimes they contain impolite words for children to hear.

The children of refugees need more attention because unsuitable entertainment like this can influence their character development.

Lilin Praharani Cima
Yogyakarta

Rapor Kak Rara


“Assalaamulaikum… bunda.. bundaaa..”

Asa sedang asyik bermain dengan zozo bonekanya saat ia mendengar kakaknya datang. Asa menoleh kearah pintu sebentar, lalu kembali asyik mendandani zozo dengan dengan baju-baju bekasnya yang kekecilan.

“Wa’alaikumsalam… oo… anak bunda sudah pulang gimana rapornya?” Asa mendengar sahutan bunda dari dalam dapur.

“Tebak dong Bunda?” sekarang suara kak Rara kembali terdengar.

Meski tangan asa sibuk memakaikan baju ke Zozo namun ia menyimak pembicaraan kakak dan ibunya dengan penasaran.

“mmm… koq malah main tebak-tebakan sih? Anak bunda yang satu ini pasti dapet juara kelas lagikan?” bunda menjawab pertanyaan kak rara.

“Yup, bunda benar!” kali ini suara kak Rara lebih keras mirip suara presenter kuis.

“ Wah hebatnya anak bunda, sini bunda lihat rapornya.”

Setelah itu yang terdengar hanya suara tawa bunda dan kak Rara yang sibuk membolak-balik rapor. Mereka duduk berdua di sofa ruang keluarga. Bunda berkali-kali memuji kakaknya dan kak Rara pun tersenyum bahagia.

Asa mulai bosan bermain dengan bonekanya, tanpa sadar ia malah duduk termenung diantara mainanya yang berserakan. “Minggu depan giliran aku yang bagi rapor, nilaiku bagus tidak ya?” gumam Asa perlahan. Sebenarnya dia sedikit khawatir kalau nilainya tak sebagus kak Rara yang sudah SMP itu. Minggu depan adalah pertama kalinya asa menerima rapor. Ia baru saja masuk ke kelas satu SD awal semester yang lalu. Kakaknya selalu saja mendapat nilai bagus di kelas. Asa terpaut 6 tahun dengan kak Rara. Sejak SD sampai di SMP sekarang sering sekali kak Rara dapat juara kelas. Bahkan ia sering dikirim sekolahnya untuk mengikuti perlombaan. Mulai dari lomba cerdas cermat, pidato, baca puisi, menulis dan hapir semua perlombaan dimenangkan kakaknya. Makanya meja belajar kakaknya penuh dengan piala, sedangkan meja belajarnya hanya berisi buku-buku dan boneka. Asa mulai takut kalau nanti nilai rapornya tidak bagus. Ia takut tidak bias membanggakan ayah dan bundanya seperti Kak Rara. Apalagi teman-teman kelasnya banyak yang lebih pintar dari Asa. Dito yang selalu dapat nilai 10 saat mengerjakan soal matematika, Rena yang selalu percaya diri menjawab pertanyaan bu Guru dikelas, atau Lila yang sudah sangat lancar membaca. Sedangkan dirinya jarang mendapat nilai 10 paling bagus sembilan atau delapan, ia juga sering malu kalau harus maju kedepan kelas, dan membacanya kadang masih mengeja. Saking asyiknya melamun Asa tidak sadar bunda sudah berdiri didekatnya.

“Asa ayo mainanya segera dibereskan, sekarang makan siang dulu ya. Kak Rara sudah menunggu dimeja makan.”

Asa sedikit terkejut dengan kehadiran bundanya. Ia hanya mengangguk lesu lalu memasukkan mainanya kedalam kotak plastik. Selama makan siang bunda dan kak Rara masih terus membahas nilai-nilai rapor kak Rara. Asa hanya diam mendengarkan.

“Asa kenapa kok dari tadi diam saja?” bunda menyadari kalau ada yang aneh dengan Asa.

“Nggak apa-apa koq bunda.” Jawab Asa bingung. Ia tak berani menceritakan ketakutanya tentang bagaimana nilai rapornya besok.

Makan siang Asa hamper selesai ketika Lila memanggil namanya dari balik pagar.

“Asa… Asa… main yuk!” suara Lila yang nyaring terdengar sampai ruang makan.

Asa menatap bunda sambil berkata, “Asa boleh main ya Bun?”

Bunda tersenyum sambil mengangguk, “Tapi dihabiskan dulu makannya dan pulang sebelum jam tiga ya? Nantikan Asa harus berangkat TPA”

“Siap Bunda” jawab Asa girang. Masalah ketakutanya tentang nilai rapot mendadak terlupakan.

***

Seminggu sudah berlalu. Tak terasa besok sudah hari sabtu. Asa semakin merasa gelisah. Ia benar-benar khawatir akan nilai rapornya tidak bagus. Sebenarnya Asa bukan anak yang malas, ia belajar hampir setiap malam. Tapi tetap saja Asa tidak selalu jadi yang terbaik di kelasnya. Gurunya hanya memuji Asa untuk pelajaran kesenian. Asa memang sangat senang menggambar dan gambarnya selalu mendapat nilai diatas 8.

Hari ini hari Jum’at seperti biasa Asa dan keluarganya selalu menghabiskan waktu sore bersama. Ayah Asa biasanya pulang lebih awal dihari Jum’at. Sore ini mereka semua berkumpul di teras samping rumah. Ayah sedang membaca Koran, ibu tapik asyik merajut syal, sedang kakak Rara dari tadi senyum-senyum membaca majalah favoritnya, dan Asa juga ada disana dengan satu set alat gambarnya. Asa sedang menggambar spongebob salah satu kartun kesukaanya. Tiba-tiba Ayah mulai bicara.

“Besok hari sabtu ya? Waktunya Asa bagi rapor dong?”

Asa menoleh kearah Ayah. Dia sebenarnya malas membicarakan tentang bagi rapor. Ia takut mengecewakan Ayah dan Bunda kalau rapornya jelek.

“Ditanya kok malah bengong?” ayah kembali bertanya.

“I…iiya Yah, besok Asa bagi rapor.” Asa menjawab perlahan.

“Ayah, Bunda Asa boleh tanya?”

Ayah dan Bunda berpandangan, “Tentu boleh sayang, ada apa?”Bunda menjawab sambil tersenyum.

“Kalau..kalau besok Asa nggak dapat juara kelas Ayah sama Bunda marah nggak?” Akhirnya pertanyaan yang sudah seminggu dipendam Asa keluar juga.

Ayah dan Bunda kembali berpandangan, lalu mereka tersenyum. Ayah turun dari kursi dan duduk di sebelah Asa.

“Asa…” kata ayah sambil membelai rambut Asa, “Jadi juara kelas itu memang prestasi yang membanggakan. Ayah dan Bunda senang sekali kalau anak-anak Ayah dan Bunda jadi juara kelas. Tapi tidak semua orang harus jadi juara kelas. Bukan berarti kalau Asa tidak jadi juara kelas Asa bukan anak yang hebat, yang penting Asa sudah mau belajar. Asa tetap bisa jadi anak hebat dengan prestasi Asa yang lain. Misalnya dengan gambar Asa yang bagus-bagus, dengan jadi anak yang baik dan punya banyak teman, itu semua sudah bisa bikin Asa jadi anak yang hebat. Mengerti?”

“Jadi Ayah dan Bunda nggak marah kalau rapor Asa nggak sebagus rapor Kak Rara?”

Bunda menggeleng, “Asa nggak harus jadi juara kelas, yang penting Asa suda berusaha.” Kali ini bunda yang menjawab.

Akhirnya Asa sekarang jadi lega. Dia tidak khawatir lagi dengan nilai rapornya. Kalaupun dia belum bisa jadi juara kelas Ayah dan Bunda akan tetap sayang kepadanya. Yang penting dia harus belajar lebih giat lagi semester depan.

Mbah Ngatini dan Kambingnya


Pagi selalu saja menebar gigil di dusun kecil itu. Menyebabkan tubuh meringkuk lebih bulat dan selimut menempel dikulit lebih rapat. Namun hal itu tidak berlaku untuk Mbah Ngatini. Sedingin apapun udara, segemetar apapun tulang-tulang rusuknya ia tetap harus meninggalkan rumah sepagi itu. Karena kalau tidak kambing-kambing di belakang rumah akan mengembik lebih kencang seharian nanti. Sudah sejak malam mereka berunjuk rasa kepada mbah ngatini karena kehabisan pakan. Rumput yang dicarinya kemarin pagi sudah ludes di mamah oleh dua ekor kambing yang ia pelihara. Kalau ia berangkat lebih siang tentunya ia harus bersaing dengan tukang ngarit lainya yang jauh lebih muda dan sebagian besar laki-laki. Ia tidak mau mengulang pengalaman mencari rumput didusun tetangga yang lebih jauh karena punggungnya tak sekuat dulu jika harus memanggul keranjang rumput dalam waktu lama.
Setelah menyeruput secangkir teh gula batu yang hangat, kakinya melangkah mantap menyebrangi pintu. Seperangkat peralatan telah tergenggam, sebilah arit di tangan dan tenggok bambu memeluk punggungnya. Ia terhenti sejenak saat melewati kandang kambing ditatapnya dua ekor kambing yang sedang meringkuk disudut kandang. Segaris senyum terukir di atas dagu tirusnya mempersamar guratan kerut yang sudah lama terpahat disana. Terbayang olehnya beberapa minggu lagi hari raya kurban. Artinya kambing-kambing itu akan berubah menjadi beberapa helai ratusan ribu. Dan ia bisa melunasi hutang beras diwarung si Sum di seberang kreteg* sana. Sisanya akan dibelikan anakan kambing lagi. Setelah cukup mendapat motivasi untuk menembus kabut beku pagi itu langkah mbah Ngatini semakin mantap. Daerah operasinya kali ini adalah lapangan desa. Ia lihat rerumputan disana sudah mulai tinggi waktu melintas disana sepulang mengunjungi cucunya di desa tetangga kemarin. Suasana dusunya masih sangat sepi, hanya mushola Al-Amin yang lampunya menyala dilihatnya jama’ah sholat shubuh yang hanya terdiri dari satu imam dan dua makmum disana. Artinya ia berhasil satu langkah mengalahkan pesaingnya dalam berebut lahan operasi.
***
Senja perlahan bergulir. Peranya kini digantikan malam. Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Mbah Ngatini masih berjongkok didepan tungku meniup-niup ranting agar api tetap menyala. Selang setengah jam kemudian nasi diatas tungku sudah siap diangkat dan mbah ngatini pun segera mengambil centong dan piring. Tidak seperti kebanyakan dirumah-rumah lain mbah Ngatini tidak perlu membuat cawisan*. Nasi dan sayur langsung dipindahkan kepiring untuk disantap. Ia tidak perlu mewadahinya di periuk atau mangkuk karena tidak ada yang harus dilayani seperti dulu saat masih ada suami dan anak-anaknya. Ia memasak dari dan untuknya sendiri. Karena dirumah itu hanya ada dia dan dua kambingnya.
Mbah Ngatini duduk di atas dingklik sambil perlahan menyuapkan nasi berlauk sayur kluwih kemulutnya. Kalau saja malam itu sama seperti beberapa tahun lalu ia tidak akan semerana ini. Ia akan duduk melingkar di amben bersama suami dan dua anaknya, Maryati dan Prihatini. Mengerumuni nasi yang mengepul dan berbagi beberapa potong tempe. Namun Gusti Allah berkehendak lain. Suaminya meninggal enam tahun lalu karena demam berdarah dan anak-anaknya kini sudah ikut suaminya masing-masing. Maryati yang kini sudah memiliki dua anak tinggal di kampung sebelah. Dan Prihatini juga sudah memilih tinggal dengan keluarga suami. Untung mereka pindah tidak terlalu jauh. Mbah Ngatini masih bisa melepas rindu dengan cucu-cucunya dengan berjalan beberapa kilometer saja.
***
Malam itu lebih gelap dari malam biasanya. Anginpun bertiup lebih kencang. Sepertinya hujan akan turun. Mbah Ngatini terkantuk-kantuk mengakhiri dzikir ba’da isya’nya. Ia berjalan ke arah pintu untuk memastikanya terkunci rapat. Setelah itu tubuh rentanya dibaringkan diatas dipan tua kesayangannya.
Klutuk..klutuk…klutuk…
Suara hujan sudah mulai terdengar. Makin lama makin keras. Tapi aneh ini bukan hujan biasa. Suaranya bukan seperti air yang jatuh tapi benda keras. Mbah Ngatini juga merasakan keganjilan yang sama. Ia pun tak bisa terlelap nyenyak. Untuk menjawab rasa penasaranya ia menengok keluar lewat jendela.
Uhuk..uhuk..
Mbah Ngatini langsung terbatuk saat butiran-butiran abu yang diterbangkan angin menyerbunya. Ya abu, ini hujan abu. Memang sudah sejak minggu lalu warga desa membicarakan merapi. Kata orang-orang yang melihat berita di tivi merapi akan segera meletus. Tapi tidak ada yang aneh bagi warga desa itu mereka tidak panik dan tetap saja beraktifitas seperti biasa. Gunung merapi sudah seperti sahabat yang mereka kenal dengan baik selama bertahun-tahun. Hampir setiap tahun juga ada hujan abu seperti ini. Apalagi bagi mbah Ngatini seumur hidupnya sudah sering melihat merapi meletus. Memang dulu ia pernah kehilangan pakdenya karena letusan merapi. Tapi toh mau bagaimana lagi. Gunung merapi sudah terlalu banyak memberikan kebaikan dan sayang untuk ditinggalkan. Mereka sudah terlanjur memilih hidup disitu. Dan menggantungkan segalanya pada apa yang ada disekitar mereka. Bergantung pada tanahnya yang menumbuhkan padi dan suyuran untuk menyambung hidup. Bergantung pada pasirnya yang menjadi bahan tambang andalan untuk membangun gedung-gedung. Bergantung pada padang rumputnya yang menjadi makanan kambing dan sapi kesayangan. Jadi pergi meninggalkan desa adalah pilihan terburuk.
***
Esok malam suasana masih belum berubah. Malahan suara gemuruh dari dalam tanah semakin keras dan menggetarkan. Jalan-jalan desapun semakin ramai karena banyak mobil-mobil asing berlalu lalang. Katanya mereka datang dari kota untuk membantu warga desanya yang sudah mengungsi ke daerah yang lebih rendah. Hujan abu kemarin malam ternyata lebih dahsyat dari yang diperkirakan. Bahkan juru kunci yang selama ini dipercaya menjaga ketenangan daerah lereng gunung merapi dikabarkan meninggal akibat salah memperkirakan arah larinya wedus gembel.
Namun warga di desa mbah Ngatini masih beraktifitas seperti biasa. Meski desas-desus bahwa desa mereka berpotensi terkena semburan awan panas selanjutnya. Mbah Ngatini masih tetap mencari rumput dan membersihkan kandang. Karena kalau tidak kambing-kambing itu tidak jadi gemuk dan sehat pada saatnya dijual nanti. Apa lagi yang bisa diharapkan mbah ngatini untuk menyambung hidup selain kambing-kambing itu.
***
Malam berikutnya suasana desa semakin mencekam. Berita di televisi menambah kepanikan para warga. Tadi siang beberapa orang berseragam mengunjungi desa. Mereka memantau kondisi desa katanya dan kesimpulannya warga desa harus segera meninggalkan desa yang berjarak tujuh kilo meter dari puncak merapi itu. Radius bahaya merapi sudah ditetapkan sepuluh kilometer dari puncaknya. Sore harinya terdengar pengumuman dari Masjid Al-Amin bahwa warga akan di evakuasi malam ini juga. Truk-truk sudah disiapkan untuk mengangkut mereka. Tapi masih banyak warga yang enggan. Bukan karena tidak sayang pada nyawa. Mereka khawatir pada nasib sapi dan kambing mereka. Karena hanya itulah harta berharga yang mereka miliki. Dalam kondisi ekonomi sesulit ini apa lagi yang lebih berharga dari pada sumber penghasilan. Tanpa sapi-sapi dan kambing-kambing itu mereka akan jadi pengangguran.

Sore itu pengumuman untuk segera berkemas dan bersiap siaga meninggalkan desa telah disiarkan dari pengeras suara masjid Al Iman. Mbah ngatini juga mendengar pengumuman dalam bahasa jawa itu. Ia malah jadi semakin bingung. Apa yang harus dilakukannya? Kalau dia ikut mengungsi bagaimana nasib dua kambingnya. Hanya dua kambing itu yang dia punya. Dan dia mau dibawa kemana? Apakah anak-anaknya juga ikut mengungsi? Mbah Ngatini benar-benar bingung. Tidak ada yang bisa diajak rerembug untuk mengambil keputusan. Mbah Ngatini akhirnya memilih untuk bertahan. Ia akan menunggu anaknya. Ia percaya anaknya pasti akan menjemputnya kalau keadaan benar-benar bahaya.
***
Semua warga desa mbah Ngatini sudah naik kedalam truk. Pihak kelurahan sudah berhasil meyakinkan mereka untuk mengungsi. Lima truk pertama mengangkut ibu, lansia, dan anak-anak. Lalu bapak-bapak dan pemuda menyusul dengan truk yang lain. Beberapa warga yang memiliki kendaraan memilih naik motor untuk mengungsi.
***
Malam ini keadaan desa mbah Ngatini benar-benar senyap dan gelap. Tak ada lagi suara kentongan para peronda. Hanya suara kambing yang sesekali mengembik dan sapi yang melenguh. Tanah berderak semakin kuat. Suara gemuruhpun menambah galau suasana. Hanya satu rumah yang lampunya menyala. Sebenarnya mbah Ngatini juga gelisah tapi ia sudah tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa berharap salah satu anaknya akan datang menjemput. Mbah Ngatini mencoba menenangkan diri dengan menyebut-nyebut Asma penciptanya. Di sampingnya terdapat segelas teh hangat yang isinya tinggal setengah. Sudah dua malam ini ia tidak bisa tidur. Lelah ia membolak-mbalikkan badan diatas ambenya yang reot. Sesekali ia mengintip lewat lubang kecil didinding rumahnya untuk memastikan apakah kambingnya baik-baik saja. Lama-kelamaan tubuh tua itu menyerah juga iapun tanpa sadar tertidur bersandar pada papan rumahnya.
***
Mbah Ngatini sedang mencari daun singkong dikebun rumahnya untuk sayur hari ini. Sesekali batuknya mengguncang tubuhnya yang renta. Susah mendapatkan daun yang layak dimakan. Semuanya kotor karena debu abu vulkanik. Bahkan daun-daun untuk kambingyapun harus dicuci dulu agar mereka mau makan. Tapi mau bagaimana lagi hanya itu yang bisa didapatnya untuk makanan. Mbah ngatini akan merebusnya dengan dibumbui garam.
Baru saja mbah Ngatini hendak masuk kerumahnya tiba-tiba ia mendengar beberapa suara beberapa orang yang sedang mengobrol entah tentang apa. Mbah Ngatini mecari-cari dari mana asal suara. Serombongan orang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Mereka semua bersergam. Mereka menunjuk-nunjuk kearah mbah Ngatini. Mbah Ngatini semakin kaget dan bingung. Merekapun mendekat. Salah satu dari mereka mengajak mbah ngatini berdialog. Ia meminta mbah Ngatini meninggalkan desanya. Mbah Ngatini menolak, ia kukuh tidak mau pergi dari desanya. Ia tak tega meninggalkan kambing-kambingnya. Hanya kambingnya yang ia punya dan setia menemaninya selama ini. Disaat anak-anak kandungnya tidak peduli akan kesepian dan ketakutannya. Toh Kalaupun ia harus mati karena tetap tinggal tak apa baginya. Sungguh ia rela dari pada harus meninggalkan kambing-kambingnya karena ia tahu betul sakitnya ditinggalkan.
Tubuh tua mbah Ngatini hanya bisa meronta saat orang-orang berseragam itu membopongnya paksa. Menaikanya keatas truk yang melaju meninggalkan desa. Meninggalkan kambing-kambing mbah Ngatini.


*Kreteg: Jembatan

#Serenade Ungu#
-Barak Pengungsian Stadion Maguwo- Akhir 2010

Wednesday, February 1, 2012

Cinderella Man (English Version)


Cinderella man a film by Ron Howard was produced in 2005. The film starts with the introducing the main character James J. Braddock. The audience firstly introduced to him by a quotation that promising a wonderful story of the boxer. The quotation states: “In all the history of the boxing game you find no human interest story to compare with the life narrative of James J. Braddock…” (Damon Runyon). This film begins with describing the beautiful life of James J. Braddock. He is described as a successful boxer with bright future. He wins most of his match and adore by many fans. He also has a happy family. He has a wife who love and proud to him and children who idolize him. They live sufficiency in a stylish house. Generally speaking James J. Braddock complies all of American mostly dream: wealth and popularity. The information about setting of the story is very clear. The story takes place in New Jersey. Yet there is written information of years related the context (great depression) in every significant changing of scene. It help the audience to watch the movie without leave the context and it give an emphasizing that it is a really based on true story. The conflicts rise when James J. Braddock’s life changes drastically. All of his successful life is gone. He only can provide a slum for his family to stay in. He has no money to pay gas and electric even to buy enough food. Moreover he is a not a productive boxer anymore. He seems too weak, old and unable to fight back his opponent. Finally his boss fired him. However his family still seems the happy one. He always acts optimist in front of his family. He tries his best effort to his family. The scene when he gives his breakfast to his child, Rosy, and how he make sure Jay that he would not sent his children a way are the best scene to describe his dedication to his family. The conflict still rising until Braddock family comes to their worse condition. Since James J. Braddock has no job anymore he tries to be a labor in the harbor however he cannot get the job every day because only seven until eight person needed and the payment is only several cents. He cannot provide enough food and the electric and gas is pull out from his slum. In those panic situations his wife sent the children to their other family without Braddock permit. Being frustration, Braddock takes away his embarrassment by begging money from his ex job partners. Then he can take back the children. Near the climax James J. Braddock get some chances to come back to the rings. He successfully wins the first match after fared. And the chance to fight a great boxer comes. The conflicts with his wife, Mae, arise anymore. His wife really worry with him because beside of the opponent that was very strong and often kills in the match Braddock’s condition also is not as strong as when he was still young. Some injure make him weaker. But James J. Braddock do not want detach this match. His aim is only to get money for his family. The climax comes when the match day began. And he knocks his opponent down with hard struggle. His success inspires American to wake up from the depression. It motivates them not to be hopeless and make sure them everyone has chance. The denouement showed with slide show of James J. Braddock pictures in happy events with the family after the great match. Yet the written information about what is happens in the next James J. Braddock life is added. Those are describes the successful of Braddock until he dead.

Cinderella Man acclaimed as biographical film since it tells a story life of a phenomenal boxer James J. Braddock who struggle against difficult life during great depression. Ron Howard tries to emphasize the originality of the true story through written information explains the setting through the film and close the film with written story of James J. Braddock. The historical background that is portrayed in the film can be said accurate since it describes the setting of social condition in the great depression detail enough. As we know that one from four person at that time are employed the clear description can we see from the scene when many people beg job in the harbor but only several of them that is needed. The bankrupt of the industry also portrayed when James J. Braddock discusses about his failed in buy some stock from taxi factory that he thought as the most potential factory with Mike Wilson who also has been bankrupt from his business. In the discussion Wilson also mention the US president at that time Herbert Hoover and FDR the real organization for solve economic problem at that time.

The last is James J. Braddock is not a fictive character. He is a real boxer. The name of others boxer in the film such as Tommy Loughran, John Corn Griffin, Max Baer are also real. Although there are many action scenes in this movie, it disposed to be included in drama. The color of the film that is can be said homogeneous or un-colorful strength the drama element. The colors in the film that are mostly black, brown and gray give un-cheerful or vague tone. The colors mostly appear from the actors’ costume. Another cinematography that is protrude in the film is the camera technique. The cameras technique in the film is protrude mostly at the scene takes place on the ring especially in boxing match. The camera often zoomed to detail the movement of the boxer when they hit the opponent and the injuries that hurt the boxer. The camera speed during the boxing match also gives certain impression. For example sometimes it take in slow motion to detailed the movement or to dramatizes the story or sometimes it take fast to stimulate audience adrenaline.

In the Cinderella Man the director tries to portray the Great Depression in its dramatic view. The strongest entertainment element in the film is the narrative quality of it. This film meaningful for the audience since it motivates the audience to keep struggle and avoid hopeless. Yet according to some expert Cinderella Man also has good cinematography. The director success enough performs this historical drama. However entertainment elements seems stronger that its historical element.

Ketika Merapi Meletus

Sejak setahun yang lalu aku punya gawean baru. Jadi relawan euy. Jadi setahun yang lalu seluruh isi dunia pasti tahu kalau ada bencana dahsyat di negeri ini yaitu Merapi eruption. Waktu kejadian suasana Jogja bener-bener mencekam. Hujan abunya aja sampai ke jawa tengah bagian barat. Hampir setiap malam ada suara gemuruh dari dalam tanah. Dan Jogja juga jadi sepi banget karena sebagian orang khususnya pendatang ngungsi ke luar kota. Apalagi isu-isu di TV yang bikin tambah panik. Pokoknya lumayan memicu adrenalin dah nekat bertahan di jogja waktu itu.

Jogja bagian utara (tempat dimana si Merapi berada) masuk kabupaten Sleman. Dan Sleman itu bisa di bilang gudangnya mahasiswa. Karena hampir sebagian besar universitas gedhe ada di sini. Sebut aja UGM, UNY, UII, SaDhar, AMIKOM, UPN, belum lagi kampus2 kecil yang juga nggak sedikit. Karena banyak mahasiswanya otomatis banyak pendatang. Dan para pendatang itu nggak punya alasan untuk tetap bertahan di Jogja. Selain khawatir akan hal-hal yang bisa membahayakan jiwa raga ortu di kampung halaman juga pasti udah heboh akan keslamatan anaknya. Jadilah berbondong-bondong mahasiswa tersebut meninggalkan Jogja. Dan jogja semakin sepi.

Di sisi lain banyak orang-orang dari luar Jogja dari berbagai elemen malah datang ke Jogja untuk menjadi relawan. Mulai dari dokter, mahasiswa, dinsos, stasiun TV, Tim Sar, organ2 sosial, pokonya banyak deh. Dari sana aku mulai mikir mereka aja yang nggak ada hubunganya sama jogja mau susah payah membahayakan diri dateng ke sini. masak aku yang numpang hidup di sini malah kabur sih. Dan entah bagaimana ceritanya aku menobatkan diri jadi bagian dari mereka...

aksi pertamaku adalah di balai desa Umbulharjo. Aku punya banyak kenalan aktivis kampus yang udah mulai jadi relawan semenjak penduduk bagian paling atas (sekitar daerah kinah rejo) mengungsi. Waktu itu belum terjadi letusan besar tapi lumayan croded juga barak pengungsianya. Disana aku mangkal di posko yang dibuat teman-teman kampus. Namanya posko mahasiswa terpadu. Waktu kegiatanya nemenin adek-adek SD main, mulai dari nggambar sampai main apapun yang bisa dimainin. Bantuan berupa mainan udah lumayan banyak juga sih jadi nggak perlu susah cari mainan buat mereka. Pokoknya yang ku ingat waktu itu cuma main. (Jadi relawan apaan ya?)

aksi keduaku adalah di dapur umum. Ternyata letusan tak terduga terjadi. Hingga pengungsi harus turun dan terus turun gungung sampe ke kabupaten lain. Jumlah pengungsinya sampai puluhan ribu. Bahkan daerah2 yang biasanya jadi tempat ngungsi sekarang penduduknya malah diungsikan. Keadaan otomatis tambah mencekam. Semua orang harus waspada termasuk aku. Setiap pergi kemanapun semua barang penting harus dibawa. Takunya sewaktu-waktu harus ikut ngungsi juga. Aku ganti peran sebagai relawan karena yang paling dibutuhkan waktu itu adalah logistik aku menjelma jadi tenaga logistik. Hampir setiap pagi datang ke dapur umum. Dapur umumnya pindah-pindah lagi. Tapi paling sering ke rumah warga sekitar barak pengungsian yang dijadikan dapur umum. Dari mulai bantu masak sampai anter2 makanan.

aksi ketigaku adalah di barak pengungsian stadion maguwoharjo. Ini nih tempat yang menjebak dan menjadikanku relawan sampai detik ini. tapi untuk cerita lengkapnya nanti ya he... he...