Showing posts with label karyaku. Show all posts
Showing posts with label karyaku. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

Rapor Kak Rara


“Assalaamulaikum… bunda.. bundaaa..”

Asa sedang asyik bermain dengan zozo bonekanya saat ia mendengar kakaknya datang. Asa menoleh kearah pintu sebentar, lalu kembali asyik mendandani zozo dengan dengan baju-baju bekasnya yang kekecilan.

“Wa’alaikumsalam… oo… anak bunda sudah pulang gimana rapornya?” Asa mendengar sahutan bunda dari dalam dapur.

“Tebak dong Bunda?” sekarang suara kak Rara kembali terdengar.

Meski tangan asa sibuk memakaikan baju ke Zozo namun ia menyimak pembicaraan kakak dan ibunya dengan penasaran.

“mmm… koq malah main tebak-tebakan sih? Anak bunda yang satu ini pasti dapet juara kelas lagikan?” bunda menjawab pertanyaan kak rara.

“Yup, bunda benar!” kali ini suara kak Rara lebih keras mirip suara presenter kuis.

“ Wah hebatnya anak bunda, sini bunda lihat rapornya.”

Setelah itu yang terdengar hanya suara tawa bunda dan kak Rara yang sibuk membolak-balik rapor. Mereka duduk berdua di sofa ruang keluarga. Bunda berkali-kali memuji kakaknya dan kak Rara pun tersenyum bahagia.

Asa mulai bosan bermain dengan bonekanya, tanpa sadar ia malah duduk termenung diantara mainanya yang berserakan. “Minggu depan giliran aku yang bagi rapor, nilaiku bagus tidak ya?” gumam Asa perlahan. Sebenarnya dia sedikit khawatir kalau nilainya tak sebagus kak Rara yang sudah SMP itu. Minggu depan adalah pertama kalinya asa menerima rapor. Ia baru saja masuk ke kelas satu SD awal semester yang lalu. Kakaknya selalu saja mendapat nilai bagus di kelas. Asa terpaut 6 tahun dengan kak Rara. Sejak SD sampai di SMP sekarang sering sekali kak Rara dapat juara kelas. Bahkan ia sering dikirim sekolahnya untuk mengikuti perlombaan. Mulai dari lomba cerdas cermat, pidato, baca puisi, menulis dan hapir semua perlombaan dimenangkan kakaknya. Makanya meja belajar kakaknya penuh dengan piala, sedangkan meja belajarnya hanya berisi buku-buku dan boneka. Asa mulai takut kalau nanti nilai rapornya tidak bagus. Ia takut tidak bias membanggakan ayah dan bundanya seperti Kak Rara. Apalagi teman-teman kelasnya banyak yang lebih pintar dari Asa. Dito yang selalu dapat nilai 10 saat mengerjakan soal matematika, Rena yang selalu percaya diri menjawab pertanyaan bu Guru dikelas, atau Lila yang sudah sangat lancar membaca. Sedangkan dirinya jarang mendapat nilai 10 paling bagus sembilan atau delapan, ia juga sering malu kalau harus maju kedepan kelas, dan membacanya kadang masih mengeja. Saking asyiknya melamun Asa tidak sadar bunda sudah berdiri didekatnya.

“Asa ayo mainanya segera dibereskan, sekarang makan siang dulu ya. Kak Rara sudah menunggu dimeja makan.”

Asa sedikit terkejut dengan kehadiran bundanya. Ia hanya mengangguk lesu lalu memasukkan mainanya kedalam kotak plastik. Selama makan siang bunda dan kak Rara masih terus membahas nilai-nilai rapor kak Rara. Asa hanya diam mendengarkan.

“Asa kenapa kok dari tadi diam saja?” bunda menyadari kalau ada yang aneh dengan Asa.

“Nggak apa-apa koq bunda.” Jawab Asa bingung. Ia tak berani menceritakan ketakutanya tentang bagaimana nilai rapornya besok.

Makan siang Asa hamper selesai ketika Lila memanggil namanya dari balik pagar.

“Asa… Asa… main yuk!” suara Lila yang nyaring terdengar sampai ruang makan.

Asa menatap bunda sambil berkata, “Asa boleh main ya Bun?”

Bunda tersenyum sambil mengangguk, “Tapi dihabiskan dulu makannya dan pulang sebelum jam tiga ya? Nantikan Asa harus berangkat TPA”

“Siap Bunda” jawab Asa girang. Masalah ketakutanya tentang nilai rapot mendadak terlupakan.

***

Seminggu sudah berlalu. Tak terasa besok sudah hari sabtu. Asa semakin merasa gelisah. Ia benar-benar khawatir akan nilai rapornya tidak bagus. Sebenarnya Asa bukan anak yang malas, ia belajar hampir setiap malam. Tapi tetap saja Asa tidak selalu jadi yang terbaik di kelasnya. Gurunya hanya memuji Asa untuk pelajaran kesenian. Asa memang sangat senang menggambar dan gambarnya selalu mendapat nilai diatas 8.

Hari ini hari Jum’at seperti biasa Asa dan keluarganya selalu menghabiskan waktu sore bersama. Ayah Asa biasanya pulang lebih awal dihari Jum’at. Sore ini mereka semua berkumpul di teras samping rumah. Ayah sedang membaca Koran, ibu tapik asyik merajut syal, sedang kakak Rara dari tadi senyum-senyum membaca majalah favoritnya, dan Asa juga ada disana dengan satu set alat gambarnya. Asa sedang menggambar spongebob salah satu kartun kesukaanya. Tiba-tiba Ayah mulai bicara.

“Besok hari sabtu ya? Waktunya Asa bagi rapor dong?”

Asa menoleh kearah Ayah. Dia sebenarnya malas membicarakan tentang bagi rapor. Ia takut mengecewakan Ayah dan Bunda kalau rapornya jelek.

“Ditanya kok malah bengong?” ayah kembali bertanya.

“I…iiya Yah, besok Asa bagi rapor.” Asa menjawab perlahan.

“Ayah, Bunda Asa boleh tanya?”

Ayah dan Bunda berpandangan, “Tentu boleh sayang, ada apa?”Bunda menjawab sambil tersenyum.

“Kalau..kalau besok Asa nggak dapat juara kelas Ayah sama Bunda marah nggak?” Akhirnya pertanyaan yang sudah seminggu dipendam Asa keluar juga.

Ayah dan Bunda kembali berpandangan, lalu mereka tersenyum. Ayah turun dari kursi dan duduk di sebelah Asa.

“Asa…” kata ayah sambil membelai rambut Asa, “Jadi juara kelas itu memang prestasi yang membanggakan. Ayah dan Bunda senang sekali kalau anak-anak Ayah dan Bunda jadi juara kelas. Tapi tidak semua orang harus jadi juara kelas. Bukan berarti kalau Asa tidak jadi juara kelas Asa bukan anak yang hebat, yang penting Asa sudah mau belajar. Asa tetap bisa jadi anak hebat dengan prestasi Asa yang lain. Misalnya dengan gambar Asa yang bagus-bagus, dengan jadi anak yang baik dan punya banyak teman, itu semua sudah bisa bikin Asa jadi anak yang hebat. Mengerti?”

“Jadi Ayah dan Bunda nggak marah kalau rapor Asa nggak sebagus rapor Kak Rara?”

Bunda menggeleng, “Asa nggak harus jadi juara kelas, yang penting Asa suda berusaha.” Kali ini bunda yang menjawab.

Akhirnya Asa sekarang jadi lega. Dia tidak khawatir lagi dengan nilai rapornya. Kalaupun dia belum bisa jadi juara kelas Ayah dan Bunda akan tetap sayang kepadanya. Yang penting dia harus belajar lebih giat lagi semester depan.

Mbah Ngatini dan Kambingnya


Pagi selalu saja menebar gigil di dusun kecil itu. Menyebabkan tubuh meringkuk lebih bulat dan selimut menempel dikulit lebih rapat. Namun hal itu tidak berlaku untuk Mbah Ngatini. Sedingin apapun udara, segemetar apapun tulang-tulang rusuknya ia tetap harus meninggalkan rumah sepagi itu. Karena kalau tidak kambing-kambing di belakang rumah akan mengembik lebih kencang seharian nanti. Sudah sejak malam mereka berunjuk rasa kepada mbah ngatini karena kehabisan pakan. Rumput yang dicarinya kemarin pagi sudah ludes di mamah oleh dua ekor kambing yang ia pelihara. Kalau ia berangkat lebih siang tentunya ia harus bersaing dengan tukang ngarit lainya yang jauh lebih muda dan sebagian besar laki-laki. Ia tidak mau mengulang pengalaman mencari rumput didusun tetangga yang lebih jauh karena punggungnya tak sekuat dulu jika harus memanggul keranjang rumput dalam waktu lama.
Setelah menyeruput secangkir teh gula batu yang hangat, kakinya melangkah mantap menyebrangi pintu. Seperangkat peralatan telah tergenggam, sebilah arit di tangan dan tenggok bambu memeluk punggungnya. Ia terhenti sejenak saat melewati kandang kambing ditatapnya dua ekor kambing yang sedang meringkuk disudut kandang. Segaris senyum terukir di atas dagu tirusnya mempersamar guratan kerut yang sudah lama terpahat disana. Terbayang olehnya beberapa minggu lagi hari raya kurban. Artinya kambing-kambing itu akan berubah menjadi beberapa helai ratusan ribu. Dan ia bisa melunasi hutang beras diwarung si Sum di seberang kreteg* sana. Sisanya akan dibelikan anakan kambing lagi. Setelah cukup mendapat motivasi untuk menembus kabut beku pagi itu langkah mbah Ngatini semakin mantap. Daerah operasinya kali ini adalah lapangan desa. Ia lihat rerumputan disana sudah mulai tinggi waktu melintas disana sepulang mengunjungi cucunya di desa tetangga kemarin. Suasana dusunya masih sangat sepi, hanya mushola Al-Amin yang lampunya menyala dilihatnya jama’ah sholat shubuh yang hanya terdiri dari satu imam dan dua makmum disana. Artinya ia berhasil satu langkah mengalahkan pesaingnya dalam berebut lahan operasi.
***
Senja perlahan bergulir. Peranya kini digantikan malam. Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Mbah Ngatini masih berjongkok didepan tungku meniup-niup ranting agar api tetap menyala. Selang setengah jam kemudian nasi diatas tungku sudah siap diangkat dan mbah ngatini pun segera mengambil centong dan piring. Tidak seperti kebanyakan dirumah-rumah lain mbah Ngatini tidak perlu membuat cawisan*. Nasi dan sayur langsung dipindahkan kepiring untuk disantap. Ia tidak perlu mewadahinya di periuk atau mangkuk karena tidak ada yang harus dilayani seperti dulu saat masih ada suami dan anak-anaknya. Ia memasak dari dan untuknya sendiri. Karena dirumah itu hanya ada dia dan dua kambingnya.
Mbah Ngatini duduk di atas dingklik sambil perlahan menyuapkan nasi berlauk sayur kluwih kemulutnya. Kalau saja malam itu sama seperti beberapa tahun lalu ia tidak akan semerana ini. Ia akan duduk melingkar di amben bersama suami dan dua anaknya, Maryati dan Prihatini. Mengerumuni nasi yang mengepul dan berbagi beberapa potong tempe. Namun Gusti Allah berkehendak lain. Suaminya meninggal enam tahun lalu karena demam berdarah dan anak-anaknya kini sudah ikut suaminya masing-masing. Maryati yang kini sudah memiliki dua anak tinggal di kampung sebelah. Dan Prihatini juga sudah memilih tinggal dengan keluarga suami. Untung mereka pindah tidak terlalu jauh. Mbah Ngatini masih bisa melepas rindu dengan cucu-cucunya dengan berjalan beberapa kilometer saja.
***
Malam itu lebih gelap dari malam biasanya. Anginpun bertiup lebih kencang. Sepertinya hujan akan turun. Mbah Ngatini terkantuk-kantuk mengakhiri dzikir ba’da isya’nya. Ia berjalan ke arah pintu untuk memastikanya terkunci rapat. Setelah itu tubuh rentanya dibaringkan diatas dipan tua kesayangannya.
Klutuk..klutuk…klutuk…
Suara hujan sudah mulai terdengar. Makin lama makin keras. Tapi aneh ini bukan hujan biasa. Suaranya bukan seperti air yang jatuh tapi benda keras. Mbah Ngatini juga merasakan keganjilan yang sama. Ia pun tak bisa terlelap nyenyak. Untuk menjawab rasa penasaranya ia menengok keluar lewat jendela.
Uhuk..uhuk..
Mbah Ngatini langsung terbatuk saat butiran-butiran abu yang diterbangkan angin menyerbunya. Ya abu, ini hujan abu. Memang sudah sejak minggu lalu warga desa membicarakan merapi. Kata orang-orang yang melihat berita di tivi merapi akan segera meletus. Tapi tidak ada yang aneh bagi warga desa itu mereka tidak panik dan tetap saja beraktifitas seperti biasa. Gunung merapi sudah seperti sahabat yang mereka kenal dengan baik selama bertahun-tahun. Hampir setiap tahun juga ada hujan abu seperti ini. Apalagi bagi mbah Ngatini seumur hidupnya sudah sering melihat merapi meletus. Memang dulu ia pernah kehilangan pakdenya karena letusan merapi. Tapi toh mau bagaimana lagi. Gunung merapi sudah terlalu banyak memberikan kebaikan dan sayang untuk ditinggalkan. Mereka sudah terlanjur memilih hidup disitu. Dan menggantungkan segalanya pada apa yang ada disekitar mereka. Bergantung pada tanahnya yang menumbuhkan padi dan suyuran untuk menyambung hidup. Bergantung pada pasirnya yang menjadi bahan tambang andalan untuk membangun gedung-gedung. Bergantung pada padang rumputnya yang menjadi makanan kambing dan sapi kesayangan. Jadi pergi meninggalkan desa adalah pilihan terburuk.
***
Esok malam suasana masih belum berubah. Malahan suara gemuruh dari dalam tanah semakin keras dan menggetarkan. Jalan-jalan desapun semakin ramai karena banyak mobil-mobil asing berlalu lalang. Katanya mereka datang dari kota untuk membantu warga desanya yang sudah mengungsi ke daerah yang lebih rendah. Hujan abu kemarin malam ternyata lebih dahsyat dari yang diperkirakan. Bahkan juru kunci yang selama ini dipercaya menjaga ketenangan daerah lereng gunung merapi dikabarkan meninggal akibat salah memperkirakan arah larinya wedus gembel.
Namun warga di desa mbah Ngatini masih beraktifitas seperti biasa. Meski desas-desus bahwa desa mereka berpotensi terkena semburan awan panas selanjutnya. Mbah Ngatini masih tetap mencari rumput dan membersihkan kandang. Karena kalau tidak kambing-kambing itu tidak jadi gemuk dan sehat pada saatnya dijual nanti. Apa lagi yang bisa diharapkan mbah ngatini untuk menyambung hidup selain kambing-kambing itu.
***
Malam berikutnya suasana desa semakin mencekam. Berita di televisi menambah kepanikan para warga. Tadi siang beberapa orang berseragam mengunjungi desa. Mereka memantau kondisi desa katanya dan kesimpulannya warga desa harus segera meninggalkan desa yang berjarak tujuh kilo meter dari puncak merapi itu. Radius bahaya merapi sudah ditetapkan sepuluh kilometer dari puncaknya. Sore harinya terdengar pengumuman dari Masjid Al-Amin bahwa warga akan di evakuasi malam ini juga. Truk-truk sudah disiapkan untuk mengangkut mereka. Tapi masih banyak warga yang enggan. Bukan karena tidak sayang pada nyawa. Mereka khawatir pada nasib sapi dan kambing mereka. Karena hanya itulah harta berharga yang mereka miliki. Dalam kondisi ekonomi sesulit ini apa lagi yang lebih berharga dari pada sumber penghasilan. Tanpa sapi-sapi dan kambing-kambing itu mereka akan jadi pengangguran.

Sore itu pengumuman untuk segera berkemas dan bersiap siaga meninggalkan desa telah disiarkan dari pengeras suara masjid Al Iman. Mbah ngatini juga mendengar pengumuman dalam bahasa jawa itu. Ia malah jadi semakin bingung. Apa yang harus dilakukannya? Kalau dia ikut mengungsi bagaimana nasib dua kambingnya. Hanya dua kambing itu yang dia punya. Dan dia mau dibawa kemana? Apakah anak-anaknya juga ikut mengungsi? Mbah Ngatini benar-benar bingung. Tidak ada yang bisa diajak rerembug untuk mengambil keputusan. Mbah Ngatini akhirnya memilih untuk bertahan. Ia akan menunggu anaknya. Ia percaya anaknya pasti akan menjemputnya kalau keadaan benar-benar bahaya.
***
Semua warga desa mbah Ngatini sudah naik kedalam truk. Pihak kelurahan sudah berhasil meyakinkan mereka untuk mengungsi. Lima truk pertama mengangkut ibu, lansia, dan anak-anak. Lalu bapak-bapak dan pemuda menyusul dengan truk yang lain. Beberapa warga yang memiliki kendaraan memilih naik motor untuk mengungsi.
***
Malam ini keadaan desa mbah Ngatini benar-benar senyap dan gelap. Tak ada lagi suara kentongan para peronda. Hanya suara kambing yang sesekali mengembik dan sapi yang melenguh. Tanah berderak semakin kuat. Suara gemuruhpun menambah galau suasana. Hanya satu rumah yang lampunya menyala. Sebenarnya mbah Ngatini juga gelisah tapi ia sudah tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa berharap salah satu anaknya akan datang menjemput. Mbah Ngatini mencoba menenangkan diri dengan menyebut-nyebut Asma penciptanya. Di sampingnya terdapat segelas teh hangat yang isinya tinggal setengah. Sudah dua malam ini ia tidak bisa tidur. Lelah ia membolak-mbalikkan badan diatas ambenya yang reot. Sesekali ia mengintip lewat lubang kecil didinding rumahnya untuk memastikan apakah kambingnya baik-baik saja. Lama-kelamaan tubuh tua itu menyerah juga iapun tanpa sadar tertidur bersandar pada papan rumahnya.
***
Mbah Ngatini sedang mencari daun singkong dikebun rumahnya untuk sayur hari ini. Sesekali batuknya mengguncang tubuhnya yang renta. Susah mendapatkan daun yang layak dimakan. Semuanya kotor karena debu abu vulkanik. Bahkan daun-daun untuk kambingyapun harus dicuci dulu agar mereka mau makan. Tapi mau bagaimana lagi hanya itu yang bisa didapatnya untuk makanan. Mbah ngatini akan merebusnya dengan dibumbui garam.
Baru saja mbah Ngatini hendak masuk kerumahnya tiba-tiba ia mendengar beberapa suara beberapa orang yang sedang mengobrol entah tentang apa. Mbah Ngatini mecari-cari dari mana asal suara. Serombongan orang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Mereka semua bersergam. Mereka menunjuk-nunjuk kearah mbah Ngatini. Mbah Ngatini semakin kaget dan bingung. Merekapun mendekat. Salah satu dari mereka mengajak mbah ngatini berdialog. Ia meminta mbah Ngatini meninggalkan desanya. Mbah Ngatini menolak, ia kukuh tidak mau pergi dari desanya. Ia tak tega meninggalkan kambing-kambingnya. Hanya kambingnya yang ia punya dan setia menemaninya selama ini. Disaat anak-anak kandungnya tidak peduli akan kesepian dan ketakutannya. Toh Kalaupun ia harus mati karena tetap tinggal tak apa baginya. Sungguh ia rela dari pada harus meninggalkan kambing-kambingnya karena ia tahu betul sakitnya ditinggalkan.
Tubuh tua mbah Ngatini hanya bisa meronta saat orang-orang berseragam itu membopongnya paksa. Menaikanya keatas truk yang melaju meninggalkan desa. Meninggalkan kambing-kambing mbah Ngatini.


*Kreteg: Jembatan

#Serenade Ungu#
-Barak Pengungsian Stadion Maguwo- Akhir 2010

Saturday, February 27, 2010

Lelaki Awan II

Akhirnya pertanyaan masa kecilku terjawab sudah. Kenapa ayah dan ibu berkulit sawo matang tapi aku berkulit putih. Kenapa rambut mereka lurus tapi rambutku ikal. Kenapa mata mereka hitam tapi mataku coklat.

Akhirnya sekarang aku tahu kenapa waktu kecelakaan itu darahku tidak bisa di donorkan ke ayah maupun ibu. Kenapa tidak ada satupun dari mereka bergolongan darah setipe dengan ku.

Akhirnya aku tahu Tuhan… setelah dua puluh tahun. Bertepatan dengan hari ulang tahunku dan juga hari kematian ayah dan ibu. Kenapa Tuhan, kenapa harus aku?

Sudah kuputuskan. Aku akan cari keluargaku yang sebenarnya. Bukan karena keluarga yang selama ini bersamaku bukan keluarga yang sebenarnya. Tapi aku hanya ingin tahu seperti apa wanita yang dulu rahimnya pernah kutinggali. Seperti apa lelaki yang darahnya mengalir padaku. Apakah aku punya kakak atau adik. Apakah mereka mirip denganku.

Dan akupun menemukan keluarga itu. Sekarang dihadapanku ada seorang wanita setengah baya yang cantik mungkin ia ibuku. Seorang Lelaki yang lebih tua dari wanita tadi ia masih terlihat tampan, bisa jadi itu ayahku. Dan seorang lelaki muda yang sepertinya sebaya denganku dan warna matanya coklat seperti punyaku. Dia adik atau kakakku ya?

Aku bingung harus bicara apa. Untuk berdamai dengan degup jantungku yang kencang saja sudah sangat susah. Lalu wanita itu mulai bicara. Dengan suara seraknya yang bergetar. Diselingi batuk hingga kadang tubuhnya harus terguncang. Ya dia mengaku. Kalau dia adalah wanita itu, yang rahimnya pernah kutinggali. Dan ia pun mengenalkan. Lelaki muda itu sebagai kakakku. Ia sedikit tampak cuek tadinya, tapi sekarang tersenyum ke padaku. Oh kakakku yang tampan. Namanya Mas Riyan.
Dan sekarang saatnya aku berkenalan dengan lelaki pendiam itu. Ayahku. Ups ternyata aku salah ia bukan ayahku tapi ia adalah kakaknya ibu. Pamanku. Ibu bilang Mas Riyan biasa memanggilnya ayah maka akupun boleh memanggilnya ayah.

Ayah kandungku sudah pergi sejak lama. Ibu bercerita dengan wajah kaku waktu itu. Dari matanya ku tahu ia sedih harus bercerita tentang ayah tapi kesedihan itu tidak pernah meleleh menjadi air mata. Kesedihan itu diibiarkanya mengkristal dihati.
Ayahku pergi saat aku masih sangat kecil. Baru berumur satu bulan. Pergi begitu saja tanpa pesan. Dan setelahnya tak ada kabar sampai puluhan tahun. Sampai sekarang ketika ibu sudah berdiam dengan kesedihannya yang mengkristal di pusaranya. Dan meninggalkanku bersama lelaki awannya. Paman yang kupanggil ayah.

Itulah alasan ibu menyerahkanku kepada keluarga orang tua yang membesarkanku. Bukan karena tak sayang atau ingin menyingkirkanku. Tapi karena terlalu sayangnya ibu tak mau aku kekurangan. Bukan kekurangan harta tapi perhatian darinya. Karena waktu itu ibu harus mengurusi kakakku yang baru belajar berlari dan lelaki itu lelaki awan. Sementara ia harus tetap bekerja karena suaminya tak lagi ada. Aku maklum. Dan bisa menerima keputusanya. Toh aku malah punya dua keluarga. Walaupun sekarang ayah dan ibu angkatku sudah tiada.

***



Kehidupan baruku berjalan cukup menyenangkan. Aku, meski ditinggal kedua orang tuaku kini menemukan keluarga baru. Seorang ibu, seorang kakak, dan lelaki awan yang kupanggil ayah.

Pernah aku bertanya kepada ibu kenapa memanggil ayah dengan lelaki awan. Kata ibu, ia menikmati merawat lelaki itu seperti ia menikmati awan.

Lelaki itu kadang seperti awan badai kalau sedang mengamuk. Kalau ada yang melenceng dari jadwalnya, ada barang yang diletakkan tidak di tempat biasanya, kalau ada suara yang tak ingin dia dengar. Apa saja di lemparnya, dibantingnya, ditendangnya. Suasanapun seketika akan berubah gaduh dan suram. Ya seperti saat-saat badai.

Lelaki itu kadang seperti awan mendung. Begitu sendu menatapnya kalau ia sedang menatap senja. Rasanya ia seperti menunggu seseorang yan tidak pernah datang.Tapi tiap hari dia menunggu. Tak terlewat seharipun. Menunggu dengan begitu setia. Kalau lelaki itu sudah seperti awan mendung, kata ibu, gerimis akan segera datang kehati ibu. Tak jarang ia menangis menatapnya.

Tetapi lelaki itu kadang seperti pelangi. Warna-warninya menjanjikan keceriaan. Kalu ia sedang memberi makan ikan ia akan tertawa-tawa sendiri. Seolah ikan-ikan itu yang mengajaknya bercanda. Iya pun akan sangat suka membelai-belai kucing yang kadang meringkuk tidur di samping pintu. Kadang suaranya juga riuh kegirangan melihat koleksi vcd-vcdnya yang semua tentang hewan. Ya begitu ceria, polos, tanpa beban. Seprti anak kecil. Seolah-olah ia lupa kalau baru saja mengamuk didapur karena ibu salah jadwal, yang harusnya jus alpukat ter tukar dengan jus tomat.

Satu hal yang membuat ibu heran. Dia butuh waktu puluhan tahun untuk terbiasa dengan ibu. Untuk mengenal ibu dengan caranya. Untuk memahami bahwa ibu bukanlah ancaman atau gangguan untuknya. Untuk mengerti bahwa ibu adalah adiknya yang seharusnya dilindungi bukan dilempari sendok atau gelas. Tapi untuk dekat dengan mas Riyan dia tidak butuh waktu lama. Sejak mas Riyan lahir ia sudah suka pada mas Riyan. Ia akan pusing kalau mendengar suara mobil atau sirene suara air yang mengalir ke kloset dan suara apapun yang ia tak suka, tapi kalau mendengar mas Riyan kecil menangis ia malah tampak menikmatinya. Sejak mas Riyan kecil, sebelum tidur dia pasti menengok kamarnya, melihat apa yang Riyan lakukan tersenyum, lalu pergi tidur.






***
Akhirnya roda kehidupan terus berputar. Dan sekarang aku dan keluargaku sampai disini. Yang tersisa hanya aku dan lelaki awan itu. Ibu kandungku meninggal karena sakit. Dan mas Riyan pergi entah kemana. Menghilang seperti ayah kandungku meninggalkan ibu. Menghilang tanpa kabar. Terakhir yang ku tahu dia pergi ke pedalaman Kalimantan untuk penelitian tugas akhir kuliahnya. Sayangnya hutan tempatnya meneliti terbakar dan sejak itu aku kehilangan kontak denganya.

Biarlah sekarang aku bersama lelaki awan itu. Menikmatinya seperti menikmati awan. Seperti cara ibu .

Lelaki Awan I

Seperti biasa sore ini dia duduk di kursi yang sama setiap harinya. Hanya duduk, dengan mata menatap ujung langit yang tak berujung. Entah apa yang dia tatap.
Ini pukul empat sore memang sudah waktunya.

“Allahuakbar… Allahuakbar…” suara adzan maghrib dari masjid ujung jalan. Dia masih tidak beranjak dari duduknya. Seolah-olah tak mendengar kalau ada panggilan Tuhan. Bukan hanya panggilan Tuhan yang tak dingengarnya, tapi suara apapun. Terus begitu duduk di kursi yang sama di ujung senja.

Sekarang pukul enam sore. Makanan sudah ku tata di meja makan sejak sebelum maghrib. Ini hari rabu sore berarti menunya harus sup ayam dan perkedel kentang. Semua sudah kutata seperti biasa. Dan lelaki itu segera menutup senjanya. Dia melangkah menuju meja makan. Berarti aku harus segera menghilang dari ruang makan.

“ prang… klontang…”
“ ahh… ahhh… sendok… sendok..”

Aku segera berlari ke ruang makan. Dan disana kutemukan pecahan piring berserakan di lantai. Apa yang salah? Oh ternyata sendoknya tertukar, bukan sendok yang biasa. Bagaimana dia bisa tahu padahal mirip sekali. Aku segera menukar sendoknya dan menghilang lagi dari ruang makan. Oh iya pecahan piringnya. Ahh nanti saja kalu dia sudah selesai makan. Toh diapun tidak peduli.

Aku menunggunya menyelesaikan makan malam. Memperhatikan apa yang dia lakukan dari dapur. Lelaki itu tampan. Kulitnya bersih. Rambutnya ikal lebat. Hidung mbangir dan wajah tirus. Mirip dengan ibu. Dan karena ibu mirip dengan mas Riyan maka ia pun selalu membuatku ingat mas Riyan. Ah mas Riyan…

Satu jam, itulah waktu yang ia habiskan di meja makan. Selalu satu jam, kalaupun meleset cuma sedikit. Tak pernah lebih atau kurang dari lima menit.
Sudah hampir jam 7 berarti ia sebentar lagi selesai.
Dan benarkan dia sudah beranjak dari kursinya.

Sekarang waktunya ke toilet. Aku harus bersiap-siap. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Ya Allah kuatkan aku lagi malam ini.

Dia sudah keluar dari dalam toilet. Dan sekarang ia menuju kamar mas Riyan. Oh ibu… malam ini lagi. Lalu akupun hanya bisa tertunduk mendengar dia mulai gelisah… menceracau tak jelas, suaranya makin keras, sekarang ia berteriak-teriak. Membanting apa saja yang bisa dibanting dalam kamar itu. Mengacak-acak buku, menendang pintu lemari, melempar bantal dan guling ke segala penjuru sampai ia lelah sendiri. Lalu terisak menagis. Lelaki yang baru saja mengamuk membati buta itu menangis. Oh ibu pilu mendengarnya.
Andai saja waktu membuka pintu kamar mas Riyan ada di dalam pasti ceritanya akan lain. Dia pasti tidak akan mengamuk. Dia hanya akan menatap mas Riyan dari pintu melihat yang mas Riyan lakukan lalu tersenyum dan pergi.

Kini dia berjalan pelan, masuk kekamarnya dibagian rumah paling belakang. Dan pasti tidak lama lagi dia akan tertidur.

Dan aku pun akan menirunya. Kembali keaktifitas rutinku. Walaupun mungkin tak terjadwal per jam seperti dirinya. Pertama-tama membereskan meja makan. Oh piring yang pecah itu. Itukan kesayangan ibu. Oh ibu… aku segera menghapus embun diujung mataku. Bukan waktunya untuk cengeng.

Sekarang memberesi kamar mas Riyan. Karena kalau esok sore lelaki itu masuk lagi kamar ini harus rapi seperti semula atau dia akan semakin menggila ngamuknya.
Oaahhmm… belum ada jam sembilan tapi aku sudah sangat ngantuk. Padahal masih ada beberapa lembar naskah yang harus kuterjemahkan karena akan diambil pemiliknya besok pagi. Aku berjalan gontai menuju kamar. Ups aku lupa, toilet. Aku belum menyiram toiletnya.

Dia selalu begitu tak pernah mau menyiram toilet. Bukan karena dia malas. Dia hanya tak bisa mendengar suara air yang mengucur kedalam closet. Itu saja alasanya. Sederhana bukan.?

Satu tugas lagi. Aku harus masuk ke kamarnya memastikan dia baik-baik saja.
Ku lihat lelaki itu sudah meringkuk dibawah selimut. Ingin sekali aku membelainya. Memahami kebingunganya. Sebenarnya aku juga bingung dengan semua ini. Tapi karena kami berbeda kamipun menyikapi kebingungan-kebingungan ini dengan cara yang berbeda. Tapi aku tak boleh menyentuhnya atau dia akan jadi lebih liar dari tadi.
Aku menatap dinding di sebelah lemari pakainya. Untuk besok bajunya kaos biru, celana katun hitam, sarapan nasi goreng, makan siang cah jamur dan telur dadar, makan malam sayur lodeh dan tempe goreng tepung. Ada jus jambu untuk siang hari. Video yang harus ditonton National Geographic tentang kehidupan laut. Baiklah. Aku kembali kebagian depan rumah. Melawati taman kecil dengan kolam ikan di depan kamar lelaki itu. Ku lihat di pinggir kolam ada makanan ikan. Kuperiksa isinya, ternyata tinggal sedikit. Berarti besok harus beli. Aku tak mau jadwal mengamuknya bertambah karena makanan ikannya habis.

Lelahnya hari ini. Masih terbayang naskah-naskah yang harus kuterjemahkan. Tak ada pilihan lain selain berteman dengan kopi malam ini.